Terima kasih telah mengembalikan tawa yang telah lama hilang dari diri saya.
Terima kasih telah datang tepat waktu.
Terima kasih telah menjadi R yang baru.
Aku terdiam. Bukan karena bisu, bukan karena lidahku kelu.
Aku diam hanya karena kumau. Dan kubutuh.
Aku di depan layar.
Namun, bukan lagi denganmu.
Sang luar biasa.
Aku di depan layar.
Menangis.
Membaca seluruh percakapan kita,
Cerdas, bodoh, lugu, mengganggu, mengharu biru, tak ada batasan antara itu.
Hanya kamu yang tahu aku pernah seaneh itu.
Aku di depan layar.
Tersenyum.
Mengingat aku pernah bersama kamu si luar biasa sudah lebih dari cukup.
Saat orang lain berkejar-kejaran mencari si sempurna,
aku punya kamu.
Kamu yang sudah cukup luar biasa dengan menjadi tidak sempurna.
Aku benci telepon,
bukan pirantinya,
tapi panggilannya.
Dalam satu panggilan dari deretan angka-angka,
bisa mengandung sejuta pertanda,
pertanda buruk misalnya,
pertanda penipuan,
pertanda waktu kepulangan suruhan,
pertanda kematian.
Aku benci telepon. Tapi telepon tak pernah membenciku.
Ia kerap datang berkali-kali, minta dijawab.
Aku, yang sifatnya pendendam, sulit menghilangkan kebencianku.
Sulit sekali, biarpun tombol hijau itu berusaha kugapai tanpa gugup berkali-kali.
Aku memang mengidap kecemasan terhadap telepon.
Mereka, para pakar, menyebutnya kecemasan sosial - garing - social anxiety.
Dan sayangnya, aku belum punya kemampuan menghilangkan itu dalam sekejap.
Aku merasa lebih aman dengan mengabaikannya.
Sampai suatu ketika...
Pernah,
aku ditelepon bukan hanya 1 kali,
tapi 6 kali,
7 kali bila dihitung usaha pertamanya di malam hari akhir bulan April saat mataku basah kuyup karena percintaan remaja SMA.
7 kali ia menelepon.
Atau berapapun itu yang aku tak ingat pasti jumlahnya.
Yang pasti, ia seringkali mencoba meneleponku.
Tak pernah kujawab.
Persoalan yang sama, alibi yang sama. Aku benci telepon.
Ia tidak pernah marah.
Sebaliknya, ia justru meminta maaf.
Karena merasa menggangguku yang mungkin sedang istirahat.
Padahal, aku takut, itu saja.
Aku takut menerima kabar buruk.
Khususnya kabar dari ia dan tubuhnya.
hidup bukan hanya sekedar tentang seberapa banyak umurmu. hidup adalah tentang kebermanfaatanmu di umurmu yang sedikit. sungguh, kepergianmu menyisakan rongga luka dalam di hati. semoga kamu bahagia di tempatmu yang baru, sobat. nb: dan saya tidak cukup kuat untuk mendengar kabar yang serupa dari tubuh yang lain. xoxo {Nabila}
Jika bunuh diri dilegalkan,
apakah aku akan melakukannya?
Ah, tidak.
Itu terlalu ekstrimis bagiku.
Aku hanya mau pergi sejenak,
atau beberapa jenak.
Aku hanya ingin melihat,
berapa dari mereka yang cukup peduli untuk mencari,
atau mungkin hanya berpura-pura sibuk.
Ah, apa sih aku ini?
Aku hanya debu di jendela,
bukan putih,
bukan pula hitam,
hanya abu-abu,
mereka mampu menghapusku dengan mudah.
Aku sendirian,
menangis lagi tanpa sebab yang ingin kuakui.
Aku merasa tidak lagi memiliki kekuatan yang cukup,
untuk bangkit,
berdiri,
di atas kedua kakiku sendiri.
Aku butuh seseorang,
yang dapat meyakinkanku bahwa semua akan baik-baik saja,
dan bahwa pada akhirnya kebahagiaanku-lah yang terpenting,
bahagia hanya karena dan hanya untuk diriku sendiri.
Ah, kau dapat menyebutku cengeng,
manja,
atau pencari perhatian,
terserah.
Tapi,
aku marah,
aku kecewa,
setidaknya pada diriku sendiri,
yang tidak mampu memendam rasa,
yang tidak cukup kuat untuk menghadapi hidup,
sendirian.
Ya, aku melankolis.
Ya, aku sensitif.
Ya, aku seorang INFJ.
Ya, aku suka menyendiri.
Tapi aku benci merasa sendirian.
hei, kamu yang disana.
aku harap kita bukan hanya bertukar sapa,
tapi juga bertukar rasa.
ya, atau setidaknya punya rasa yang sama.
tapi, apa itu rasa?
aku tidak bisa tahu.
ah andai aku memahami itu sebelumnya.
jadi aku tidak perlu menerka sendiri apa rasa itu sesungguhnya.
karena mungkin makna rasa itu tidak kamu miliki?
karena mungkin kenyataan itu yang membuatku seperti ini sekarang.
terikat.
aku tahu kamu pikir aku menerima.
bukan, aku bukan hanya itu.
kadang aku juga seorang perasa.
perasaan itu tidak bisa dipaksakan, 'kan?
jadi, dosakah aku dengan merasa?
mungkin kamu tidak akan mengerti, ya?
aku bersumpah, kamu pasti pernah melalui ini berkali-kali.
dan aku tidak bisa memaksamu untuk berpikir bahwa yang kali ini nyata.
ah, aku memang terlalu sensitif, katamu.
tapi apakah salah bahwa aku mengaku?
h u j a n.
satu dasawarsa sudah aku mengagumimu.
tapi mengapa kamu masih buat aku basah?
h u j a n.
kamu datang saat aku mesra dengan awan.
kamu berjanji akan selalu membawa pelangi.
tetapi, mana?
yang aku lihat hanya halilintar menyambar.
atau mungkin harus mata hati yang kubuka?
dear cinta,
apa artinya cinta?
apakah cinta sama seperti yang dideskripsikan dalam lagu-lagu?
apakah cinta sama seperti yang tergambar dalam drama-drama?
apakah cinta adalah... kamu?
dear cinta,
yang penting kamu ada disini.
aku tidak peduli apa artinya.
aku tidak peduli bagaimana cara mengucapkannya.
yang penting kamu ada untuk mengamalkannya...
Wahai orang disana yang sekarang mulai kupertanyakan keberadaannya..
Apa kabarmu?
Kuharap kau tidak apa.
Ya kan?
Aku dulu sempat percaya dan aku dulu sempat yakin.
Mungkin kamu yang seharusnya selama ini aku tunggu.
Mungkin kamu yang seharusnya selama ini aku nantikan.
Semua terasa dekat tetapi semu.
Kita hanya bertemu antara layar-layar yang tak menyatu.
Berarti salahkah aku?
Kamu tahu, aku suka bercerita.
Aku memang suka bicara ngalor-ngidul tak tentu arah.
Itu benar aku.
Tapi tahukah kamu?
Bahwa saat aku bercerita,
sesungguhnya aku menelusuri ceritamu.
Bahwa saat aku bercerita,
sesungguhnya aku adalah refleksi dari ceritamu yang dulu.
Kamu pasti masih ingat,
kamu pasti masih terluka.
Dan mungkin aku tidak akan pernah bisa membuatmu lupa.
Dan mungkin aku terlalu lemah untuk menyembuhkan luka itu.
Tahukah kamu?
Aku tidak mau dijadikan pilihan terakhirmu.
Aku tidak mau hanya dijadikan tempat curahan hatimu saat kau penat.
Aku juga tidak mau kau jadikan teman antar layarmu.
Aku benci virtualisasi...
kalau memang tidak ada realisasi.
Aku benci kata-kata...
kalau memang tidak ada laku.
Wahai orang yang disana.
Tahukah kamu bahwa aku mencintai hujan?
Saat ini hujan.
Tapi jangan biarkan mataku basah karena hujan;
hujan dari hatiku yang rapuh.
Kumohon jangan.
Tapi terserah kau sajalah.
Lagipula, siapa aku sampai bisa melarangmu seperti itu?
Wahai orang yang kupikir sudah menyerah.
Sudah lelahkah kamu?
Kalau kamu lelah, istirahatlah sejenak.
Dan carilah orang yang lain.
Karena aku bukan orang yang tepat yang bisa menghilangkan lelahmu.
Aku bukan itu.
Jadi...
tunggu apalagi?
Pergilah selagi kau bisa.
Pergilah selagi aku belum terjatuh terlalu jauh.
Pergilah selagi kamu dan aku bukan apa-apa.
Pergilah jika kamu memang cuma mau main-main.
xoxo
{Nabila yang tidak akan pernah menangis untuk orang semacam itu}
I'm freaking tired in pretending that every things are just right.
Even when I feel things are gone wrong.
Only God knows..
I'm freaking tired in fixing and being so perfect outside.
But still, I can't build myself back inside.
Only God knows..
I'm freaking tired in being so honest, so hard-working, so perfectionist.
When everyone just can't see it, or even don't want to see it.
Sometimes, people know or pretend to just-don't-know..
I'm just an ordinary girl who tried everything, and did everything.
And society are just a bunches of people who didn't see anything and didn't care anything.
Voices in my head told me, "Hey, are you tired of all these tiring things you've done, even when people just don't CARE of you, and just don't want to? Just leave, those are not your responsibility anymore. Just leave and be happy like old days."
And then I answered, "They may bring me down, but I won't fall. I am me, and that I should be. People don't need to direct me, I have my own direction. SOCIETY CAN NOT CHANGE ME TO BE THE OTHER PERSON I DON'T WANT TO BE. I won't leave, but that doesn't mean I am a society-slave. If I leave, people won't care. Things are seems right, but feels so wrong. Live with it and deal with it. Being happy is rare nowadays. It's my consequences."
"They shoot me down, but I won't fall. I'm a titanium." -- David Guetta ft. Sia (Titanium)
Hai.
Entah kenapa aku masih mau membahas ceritamu
Setelah beberapa waktu aku berjanji untuk membencimu.
Aku tak bisa.
Tak pernah bisa.
Hai.
Ingatkah kamu tentang cerita kamu dan aku?
Atau hanya aku saja yang terlalu bodoh untuk mengingat itu?
Apakah kau lupa? Atau bahkan tidak pernah kau simpan dalam memorimu?
You and me.
Same stories.
Bosan aku dengan perkataan orang-orang yang berpisah karena terlalu berbeda.
Kamu dan aku justru TERLALU SAMA.
Dan persamaan itu malah yang membuat kita tak pernah bersama dan malah mungkin tak bisa?
You and me.
Same. But will never be together.
дорогая, 난 당신을 사랑.
ik heb je nodig, аз не знам защо.
cada vez ฉันอยู่กับคุณ, ich fühle, dass wir gemeint sind zusammen.