Sunday, February 08, 2015

Aku benci telepon, tapi telepon tak pernah membenciku.

Aku benci telepon,
bukan pirantinya,
tapi panggilannya.

Dalam satu panggilan dari deretan angka-angka,
bisa mengandung sejuta pertanda,
pertanda buruk misalnya,
pertanda penipuan,
pertanda waktu kepulangan suruhan,
pertanda kematian.

Aku benci telepon.
Tapi telepon tak pernah membenciku.
Ia kerap datang berkali-kali, minta dijawab.
Aku, yang sifatnya pendendam, sulit menghilangkan kebencianku.
Sulit sekali, biarpun tombol hijau itu berusaha kugapai tanpa gugup berkali-kali.

Aku memang mengidap kecemasan terhadap telepon.
Mereka, para pakar, menyebutnya kecemasan sosial - garing - social anxiety.
Dan sayangnya, aku belum punya kemampuan menghilangkan itu dalam sekejap.
Aku merasa lebih aman dengan mengabaikannya.

Sampai suatu ketika...

Pernah,
aku ditelepon bukan hanya 1 kali,
tapi 6 kali,
7 kali bila dihitung usaha pertamanya di malam hari akhir bulan April saat mataku basah kuyup karena percintaan remaja SMA.

7 kali ia menelepon.
Atau berapapun itu yang aku tak ingat pasti jumlahnya.
Yang pasti, ia seringkali mencoba meneleponku.

Tak pernah kujawab.

Persoalan yang sama, alibi yang sama.
Aku benci telepon.

Ia tidak pernah marah.
Sebaliknya, ia justru meminta maaf.
Karena merasa menggangguku yang mungkin sedang istirahat.
Padahal, aku takut, itu saja.
Aku takut menerima kabar buruk.
Khususnya kabar dari ia dan tubuhnya.

Aku memang pecundang.
Aku mengutuk diriku dan ketakutan bodohku.
Aku tidak pernah merasa seberdosa saat aku melewatkan 3 panggilannya pagi itu awal bulan Januari.

Ia menyuruhku bangun (karena ia tahu aku pasti masih tidur).
Ia menyuruhku mengangkat teleponnya.
Dalam pesannya, ia terlihat sangat putus asa.

Aku tidak tahu seberapa putusasanya dia hingga...

Kuketahui ia sedang dalam keadaan kritis pagi itu.
Demam tinggi tak berkesudahan.
Jumlah sel-yang-aku-tak-hapal-namanya menurun drastis.

Ia meneleponku.
dengan tujuan meminta bantuanku dan temannya yang lain untuk menyisihkan sedikit darah kami,
untuknya yang sedang terbaring lemah.

Tapi aku belum bangun saat itu.
Dan kalaupun sudah, aku pasti terlalu takut menerima telepon dadakan di pagi hari.
Aku bukan cemas.
Aku hanya terlalu pecundang.
Aku terlalu pecundang seperti biasanya.

Aku tidak pernah mengangkat panggilan telepon darinya.
Seluruh panggilan telepon yang mungkin berjumlah 7, 10, atau 15, aku tak hapal pasti jumlahnya.

Tapi hari itu berbeda.
Ada yang beda.
Ada 1 panggilan telepon darinya yang kujawab.
Satu-satunya, pertama kalinya.
Panggilan telepon darinya di pagi hari pertengahan bulan Januari.
Aku memberanikan diri.
Aku meyakinkan diriku sendiri bahwa telepon tidak selamanya membawa pertanda buruk.
Bahwa mungkin telepon itu hanya berisi suaranya tertawa dan bercanda dengan segala sel keisengan dalam tubuhnya.

Tapi aku salah pagi itu.

Satu-satunya hari dimana aku mencoba berhenti membenci telepon,
malah membuatku semakin membencinya,

Aku benci telepon.
Tapi telepon tak pernah membenciku.

Di pagi itu, bukan suaranya yang kudengar.
Melainkan suara ayahnya.
Yang mengabarkan bahwa dia, sahabatku yang tak pernah kuangkat teleponnya,
telah dijemput mautnya.

Ya,
aku benci telepon.
Tapi telepon tak pernah membenciku.
Ia datang berkali-kali,
tapi aku hanya menyambutnya sekali.
Sekali dan satu-satunya,
di tanggal 15 Januari pukul 06.23 pagi.


xoxo
{Nabila, 18, pecundang}