Tuesday, May 19, 2015

Setiap nama punya cerita

Beberapa waktu yang lalu, saya membuka kembali file-file tugas kuliah saya di semester 1. 
Tulisan saya di bawah ini terlalu berharga apabila hanya dinikmati sendiri.
:)

****

            Nama saya Nabila Fajriani. Saya adalah anak bungsu dari tiga bersaudara. Orangtua saya pernah menyebut saya adalah ‘bonus’, karena awalnya mereka hanya menginginkan dua orang anak atau mengikuti Keluarga Berencana (KB). Mungkin itulah sebabnya alasan mengapa pemilihan nama saya mungkin tidak begitu serumit pemilihan nama kakak-kakak saya yang lain. Secara tidak langsung saya dikatakan sebagai hasil dari ‘kebobolan yang tidak diprediksikan’.
            Berawal dari akronim nama saya, menurut orangtua saya, itu sudah menjadi kesepakatan mereka sejak masih berpacaran. Saat masih dimabuk gejolak asmara masa muda, mereka sudah merumuskan formula untuk nama calon-calon anaknya kelak. Mereka telah menyetujui bahwa apabila anak laki-laki, akan diberikan akronim nama yang mengikuti nama ayah dan apabila anak perempuan, akan diberikan akronim nama mengikuti nama ibu. Ayah saya bernama Muhammad Teguh dan itulah yang menyebabkan kakak laki-laki saya diberi nama Muhammad Taufan. Karena ibu saya bernama Naimah, sesuai dengan kesepakatan tidak tertulis itu, maka anak perempuan akan diberi nama dengan insial N, yang pada akhirnya terdiri dari, kakak perempuan saya yang diberikan nama Nadia dan saya yang kemudian akan diberikan nama Nabila. Lucunya, entah atas dasar apa orangtua saya merumuskan nama calon-calon buah hatinya saat sedang berkencan di Kebun Binatang Ragunan.
            Selain akronim atau inisial nama yang mengikuti formula dari orangtua, saya pernah nyaris diberikan nama yang jauh dari nama saya sekarang. Karena kurangnya biaya untuk melakukan pemeriksaan kandungan secara menyeluruh, saya pernah diprediksikan lahir sebagai laki-laki. Hasil tebak-tebakan orangtua saya itulah yang kemudian mendasari pemilihan nama Muhammad Tornado sebagai calon nama saya. Sebenarnya tidak ada makna mendalam mengenai pemilihan nama Tornado. Alasannya sangat sederhana yaitu karena mengikuti nama panggilan kakak laki-laki saya, Topan. Menurut pengakuan orangtua saya, seorang Muhammad Tornado diharapkan dapat menjadi lebih baik dari seorang Muhammad ‘Topan’. Mungkin yang tidak diketahui orangtua saya saat itu adalah bahwa tornado pada dasarnya adalah fenomena alam berupa badai besar yang dapat memakan banyak korban jiwa.
            Beruntungnya, saya dilahirkan sebagai anak perempuan, sehingga nama Nabila Fajriani lah yang kemudian melekat pada diri saya sampai saat ini. Orangtua saya mengambil nama Nabila dari buku nama-nama bayi. Nabila berasal dari Bahasa Arab yang berarti cerdas atau pintar. Dengan nama Nabila ini, orangtua saya mengharapkan kelak saya dapat menjadi generasi yang berintelektual tinggi dan mampu bertanggungjawab atas pengembangan ilmu pengetahuan. Sedangkan, Fajriani berasal dari racikan nama yang berdasarkan pada kata ‘fajar’. Fajar sendiri didefinisikan sebagai rentang waktu di pagi hari dimana terjadinya matahari terbit. Hal ini didasarkan pada waktu kelahiran saya yaitu di fajar hari. Karena sebagai anak perempuan, orangtua saya meracik nama ‘fajar’ tersebut menjadi Fajriani. Jadi, nama Nabila Fajriani memiliki makna ‘wanita cerdas yang lahir saat matahari terbit’.
            Terkait dengan pemilihan nama yang dapat disebut agak terburu-buru, saya tetap mensyukuri nama yang telah diberikan orangtua saya melalui berbagai proses yang sedikit aneh tapi nyata itu. Kata orang nama adalah doa dan dengan nama yang telah melekat di diri saya sejak 18 tahun yang lalu, saya merasakan doa kedua orangtua saya memang benar-benar terselip dalam nama saya. Jadi, apakah saya telah merasakan kecocokan dalam makna nama dan kehidupan saya? Sampai saat ini, saya akan mengakui bahwa nama itu sedikit banyak telah berpengaruh secara tidak langsung dalam pembangunan motivasi diri untuk merealisasikan makna ‘cerdas’ yang terselip di nama saya. Sejak taman kanak-kanak hingga sekolah menengah atas, saya sering mendapatkan posisi 10 besar tertinggi di peringkat kelas. Saya pun berhasil masuk di Sekolah Menengah Atas (SMA) yang termasuk dalam Rintisan Sekolah Berstandar Internasional (RSBI) terbaik kala itu melalui serangkaian tes yang tidak mudah. Kemudian, saya membuktikan dapat menjadi peringkat kedua di urutan peringkat paralel kumulatif se-IPS di sekolah. Ini kemudian yang mengantarkan saya ke Fakultas Psikologi Universitas Indonesia melalui jalur SNMPTN Undangan mengalahkan ribuan murid lainnya se-Indonesia.

            Pada akhirnya, saya mempercayai bahwa pemilihan nama itu tidaklah sesederhana yang dibayangkan. Nama seharusnya menjadi sesuatu yang akan melekat di diri seseorang selama orang tersebut hidup. Kata orang nama adalah doa, maka dari itu, sebagai seorang Nabila Fajriani, saya berjanji akan senantiasa memberikan pembuktian atas makna dan doa orangtua saya yang terkandung dalam nama saya. Saya berjanji akan terus berusaha membanggakan orangtua saya, walaupun mereka hampir menamai saya seperti fenomena badai besar. Saya akan membuktikan bahwa seorang Nabila Fajriani bukan hanya produk dari sebuah ‘kebobolan’, akan tetapi dapat menjadi insan yang cerdas dan mencerdaskan kehidupan di sekitarnya.

Thursday, April 09, 2015

Kelahiran baru.

Terima kasih telah mengembalikan tawa yang telah lama hilang dari diri saya.
Terima kasih telah datang tepat waktu.
Terima kasih telah menjadi R yang baru.

:)