Sunday, September 21, 2014

sense of feelings.

hei, kamu yang disana.
aku harap kita bukan hanya bertukar sapa,
tapi juga bertukar rasa.
ya, atau setidaknya punya rasa yang sama.
tapi, apa itu rasa?

aku tidak bisa tahu.
ah andai aku memahami itu sebelumnya.
jadi aku tidak perlu menerka sendiri apa rasa itu sesungguhnya.
karena mungkin makna rasa itu tidak kamu miliki?
karena mungkin kenyataan itu yang membuatku seperti ini sekarang.
terikat.

aku tahu kamu pikir aku menerima.
bukan, aku bukan hanya itu.
kadang aku juga seorang perasa.
perasaan itu tidak bisa dipaksakan, 'kan?
jadi, dosakah aku dengan merasa?

mungkin kamu tidak akan mengerti, ya?
aku bersumpah, kamu pasti pernah melalui ini berkali-kali.
dan aku tidak bisa memaksamu untuk berpikir bahwa yang kali ini nyata.

ah, aku memang terlalu sensitif, katamu.
tapi apakah salah bahwa aku mengaku?




Tuesday, August 05, 2014

// F L A S H B A C K \\

Oke, post-an kali ini saya akan melakukan perjalanan waktu (lebay) kembali ke masa lalu. Not for changing the past, I believe the past will always only be a past. Dan apapun yang terjadi masa yang lalu pasti berkontribusi untuk kehidupan saya yang sekarang. I don't believe in a 'coincidence'. Semua kejadian pasti beralasan. Saya percaya.

Ini tentang kehidupan saya. 
Sejak TK sampai SMA (ya sampai sekarang sih baru segitu, hehe).
Tujuannya? So, you can't easily judge. Atau mungkin kalau ada hal yang bagus dari kehidupan saya untuk diterapkan di kehidupan para pembaca (lebay juga), itu malah lebih menyenangkan buat saya. Intinya, I just want to share. :)
***

{Taman Kanak-Kanak}
Jujur, gak terlalu banyak yang saya inget. Entah karena saya mungkin punya short memory loss atau emang kehidupan TK saya gak terlalu worthed untuk diinget. Yang masih saya inget banget adalah: the bullying. Ya intinya, saya gak punya temen (yang beneran temen) di TK. Ada suatu kejadian yang saya samar-samar inget, waktu baru masuk saya disuruh duduk di mainan puter-puteran (you know, yang rasanya kayak kita muterin setirnya padahal kursinya yang muter) sama 'temen-temen' TK saya yang keliatan berkerumun kayak nge-genk. At first, I thought they were acting so nice to me. Tapi, setelah saya duduk disitu, mereka pergi, sambil ketawa. Setelah kebingungan beberapa mili detik, saya baru sadar: saya ngedudukin muntahan. Itu yang pertama. 

Mulai dari itu, saya takut buat temenan sama mereka. Saya ngerasa jadi underdog. Mungkin karena TK saya kebanyakan isinya orang-orang kaya, ibu saya pun yang notabene nganter jemput saya pake sepeda, gak deket sama ibu anak-anak lain. Mereka sombong. Mereka ngerasa strata mereka lebih tinggi. Basically, I was a shy kid. Jadi, saya (saat itu) merasa santai aja gak punya temen. Sampai akhirnya pas lulus TK, ternyata saya dapet peringkat 3. Mengalahkan si mereka yang ngejauhin saya.

Dan beberapa waktu belakangan ini, saya ngeliat lagi foto TK saya. Ngeliat untuk sekali lagi muka-muka mereka. And secretly, me and my Mom searched their names on Facebook to see how are their lives after graduating. Dan…. mereka gak lebih baik dari saya. Ada yang dulunya cantik, bisa jadi keliatan alay (sorry to say).  Eat that, you bullies. 

Cerita ini membuat saya percaya: the sweetest revenge is massive success, baby. :)
***

{Sekolah Dasar}
Yang paling saya inget di SD adalah: saya pernah dipanggil ke ruang guru karena saya dan genk nge-bully temen saya (waktu itu sih ceritanya si korban dibully dengan dikirimin surat jahat ala ala anak genk SD). Kalo inget itu rasanya pengen ketawa miris. Dulu aja waktu TK jadi korban, eh pas SD malah jadi tersangkanya. Tapi untungnya sih semuanya udah diselesaikan dengan kekeluargaan (alias orang tua dipanggil kepala sekolah dan saya beserta genk diomelin guru-guru), walaupun waktu itu saya sempet gak ngaku salah. Menyedihkan. (and now I'm suddenly wondering, dimana ya temen saya yang waktu itu dibully? saya penasaran dengan kabarnya, semoga baik-baik aja yah :)).

Dan yang paling saya inget juga adalah saya pernah 'jatuh cinta' sama orang yang sering saya bully! Ini yang paling bikin ngakak kalo diinget-inget. Sebut saja dia Berbi (karena iya, dia cowok, tapi suka Barbie, entahlah mengapa). Saya sering banget berantem sama dia, dari mulai mukul-mukulin dia tanpa alasan pake botol Aqua (yang kemudian berakhir dengan badannya dia dan ruang kelas basah, dan kasiannya dia yang disuruh ngepel, saya jahat emang..) sampe sekedar sering ngatain dia. 

Eh ternyata dia suka sama cewek lain. Saya sedih. It was my first heartbroken, I guess. Sampe waktu itu saking sukanya sampe punya diary isinya kegiatan saya sama dia dari mulai hal-hal simpel kayak sekedar megang tangan as friends, saya anggep spesial. MENGGELIKAN EMANG. Tapi ya tetep, sebagai bully-nya dia setiap ditanyain soal si Berbi saya selalu bilang, "Ih najis, gue gak mau kali sama dia." Oh gengsi, kamu terlalu besar, gengsi. (finally, saat udah di SMA yang berbeda, saya pernah ngaku ke dia kalo saya pernah suka, HAHAHAHA GELI).

Cerita ini membuat saya menyimpulkan, seburuk apapun perlakuan orang lain pada kita dulu, tidak perlu di-balas-dendamkan ke orang yang lain.  :)

Dan cerita ini membuat saya belajar, kalau suka sama orang lain, jangan gengsi dan merasa lebih penting daripada orang lain. Berlaku untuk teman dan pacar… maybe? :p
***

{Sekolah Menengah Pertama}
Karena udah pernah ngerasain jadi korban di TK dan jadi tersangka di SD, menginjak SMP saya berniat untuk jadi anak baik-baik aja, anak yang gak mau nyari masalah. Yang dalam realitanya: I became a super-no-one girl. Kalo ditanya tentang pengalaman SMP, I will definitely answer that I don't remember like 90% of 'em. Karena saya emang gak pernah ngapa-ngapain. Tipikal belajar-pulang-belajar-pulang. Nothing really awesome.

Dan saya mulai curiga, mungkin beberapa temen SMP saya gak inget saya siapa atau sekedar kalo ketemuan samar-samar menerka saya siapa. Menyedihkan emang. But that's the truth, I was no one. I'd never contributed anything. Or even I'd never done something REALLY important on Junior High School. Pinter? Biasa aja. Aktif organisasi? Enggak sama sekali. Sering main sama temen? I did prefer watching TV at home.

Yang paling diingetnya adalah The Super Pathetic Love Live. Hahahahahahaha. Ketawa dulu deh kalo ngomongin love life. Intinya, I stucked on the same guy for almost 3 freaking years. Stuck disini maksudnya 'secretly admired then had some hard times for really moving on". Ya tapi karena seperti yang saya jelasin di awal, I'm no one. He'd never realised how I really liked him. Until I told him… maybe it was called a confession. A super sad confession. Until now… there were only a few of people that know my love life story. And no, I don't want to tell you who my crush was, sorry :p

Cerita ini emang keliatan banget tipikal hidup saya. Kadang bisa malu-malu gengsi, kadang bisa akhirnya bisa ngelakuin hal yang mungkin-kalian-pikir-malu-maluin-tapi-saya-pikir-itu-melegakan. Dari cerita saya yang sangat pasif di SMP, saya mulai mikir, buat apa sekolah kalo cuma 'sekolah' aja? Sometimes, ilmu itu gak cuma didapetin di kelas doang. There are a lot of good things that you can learn outside classrooms. Dan akhirnya memasuki jenjang SMA, saya berjanji sama diri sendiri, saya akan memberikan kontribusi lebih setidaknya untuk saya sendiri :)
***

{Sekolah Menengah Atas}
TERLALU BANYAK YANG BISA DICERITAIN.
REALLY.
Bener kata orang, masa SMA adalah masa-masa paling indah.. paling berwarna.
Dari mulai remednya, nyonteknya, cabutnya, segala-galanya.
Dari mulai jomblonya, sakit hatinya, love life beserta keanehannya, segala-galanya.
Dari mulai guru-gurunya, temen-temennya, tukang jualan di kantinnya, segala-galanya.
Tadinya mau ditulis juga dalam satu post dengan ini, tapi.. sumpah. Terlalu banyak. Kasian yang baca. Hehehehehe jadi lanjut di post selanjutnya aja yah :) to be continued.


xoxo
{Nabila yang penuh lika-liku}